Dosen dan Mahasiswa Didorong Miliki Kemampuan Berkompetisi Dalam Hibah Penelitian

Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) Surakarta menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Proposal Penelitian Berbasis Roadmap Riset”, Senin (7/11). Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Seminar FISIP UNS dihadiri pembicara antara lain Yulius Slamet, Rara Sugiarti, dan Mahendra Wijaya. Latar belakang terselenggaranya kegiatan adalah bahwa adanya keinginan Prodi Sosiologi untuk mendorong dan membekali pengetahuan serta keterampilan dosen dan mahasiswa Prodi Sosiologi FISIP UNS dalam penyusunan proposal yang mampu lolos dalam seleksi hibah kompetisi secara nasional.

Menurut Dekan FISIP UNS, Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, pelatihan dan pendampingan penyusunan proposal  ini memiliki tiga arti penting. Pertama, dosen dan mahasiswa mampu membuat proposal secara baik yang mampu lolos dalam kompetisi hibah baik dari Dikti maupun yang didesentralisasikan oleh UNS. Kedua, jika proposal didanai oleh penyandang dana, seperti Dikti, maka keluaran seperti artikel di jurnal nasional terakreditasi ataupun jurnal internasional bereputasi akan dapat menyumbang KPI (Key Performance Indicator) bagi FISIP UNS dalam mendukung UNS menuju world class university. Ketiga, hasil riset yang dihasilkan akan dapat mendukung proses belajar mengajar di kelas dan dapat bermanfaat bagi publik yang lebih luas.

Sementara Kepala Prodi Sosiologi, Ahmad Zuber menyampaikan bahwa Profil Kompetensi Lulusan Sosiologi FISIP UNS mencakup  empat kompetensi. Kompetensi tersebut adalah sebagai peneliti sosial, perencana pembangunan masyarakat dan konsultan pembangunan sosial, analis pembangunan komunitas, dan analis permasalahan sosial. Kemudian dalam mewujudkan penciri  khas Sosiologi FISIP UNS yaitu sosiologi pembangunan dan perubahan sosial, Zuber berharap kegiatan tersebut dapat dijadikan sebagai upaya untuk mewujudkan capaian di atas.

Mahendra Wijaya berbicara tentang “Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dalam Sosiologi”, Rara Sugiarti menyampaikan makalah tentang “Strategi Penyusunan Proposal”, dan Yulius Slamet berbicara tentang “Strategi Penyusunan Laporan Penelitian”.  Menurut Rara, proposal yang baik yaitu proposal yang mencakup dua karakteristik utama. Pertama, unsur fisik, kedua unsur nonfisik. Secara fisik, terkait dengan hibah penelitian Dikti, penyusunan proposal harus mengikuti panduan. Sering kali ada perubahan panduan penyusunan proposal. Oleh karena itu penyusun proposal harus membaca secara hati-hati dan teliti. Kemudian penyusun diharuskan mampu membuat positioning (memposisikan diri) dan research gap (kesenjangan penelitian) untuk membuat novelty seeking. Selain dua hal itu, juga mampu membuat roadmap riset, membentuk tim kepakaran, melakukan koordinasi intensif, melakukan final editing bersama tim, dan yang terakhir mengumpulkan proposal serta perlu melakukan langkah antisipasi.

Kemudian terkait unsur metafisik, lanjut Rara, “banyak berdoa mudah-mudahan reviewer dibukakan mata hatinya untuk dapat mengikuti jalan pikiran penyusun proposal dan menerimanya sebagai proposal yang pantas untuk didanai”.

Yulius sendiri menyampaikan bahwa pelaporan hasil penelitian yang baik, yaitu pertama, terkait dengan hasil dan pembahasan. Menurutnya, hasil penelitian seharusnya disampaikan secara objektif dan bebas nilai. Kemudian pembahasan dilakukan dengan cara mendialogkan dengan teori-teori yang dipakai, di mana letak kekuatan dan kelemahan dari masing-masing teori yang digunakan. Selanjutnya, sampai pada pemikiran bahwa peneliti dapat menghasilkan atau menyusun teorinya sendiri. Kemudian terkait dengan kesimpulan, seharusnya kesimpulan mengenai jumlah pertanyaan yang diajukan. “Kalau ada tiga pertanyaan, maka seharusnya ada tiga kesimpulan juga,” ucapnya. Sedangkan untuk bagian saran, masih lanjut Yulius, biasanya ada saran untuk pembuat kebijakan dan bagi peneliti selanjutnya. Kemudian terkait dengan implikasi, seharusnya ada implikasi teoritis dan implikasi metodologis.

Pembicara selanjutnya yaitu Mahendra menyampaikan secara umum di sosiologi ada dua mainstream penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif menekankan pada angka, variabel bebas, dan juga variabel terikat. Penelitian jenis ini juga berusaha untuk mencari kesimpulan umum dari penelitian. Sedangkan dalam penelitian kualitatif lebih menekankan pada alur cerita (deskripsi kata-kata). Lalu, peneliti  berperan sekaligus sebagai instrumen penelitian, dan kesimpulan penelitian lebih diserahkan kepada pembaca. [maryani.fisip.uns.ac.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*