Ada Rasa Internasional pada Gelaran Festival Karawitan Gadhon

Aksi teatrikal kelompok Komunitas Pandawa menyuguhkan garapan “Gatra Mutiara Jawa” pada International Festival of Karawitan Gadhon.
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jamane globalisasi, jaman ingkang sarwa nggegirisi
Budaya manca ngrusak tradisi
Tradisi mati dha ra preduli
Dirusak dening acara televise sing nggegilani
….
(Pola Palaran)

Alunan musik pengiring mulai diputar. Dua penari masuk ke arena pentas. Lenggak-lenggoknya seirama, kembar. Baju mereka pun seragam, nuansa biru laut dan putih. Malam itu (12/8), Tari Kembar Sepasang menjadi sajian pembuka International Festival of Karawitan Gadhon 2016, festival memainkan musik karawitan yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Usai dibuka oleh Rektor UNS, Ravik Karsidi, Komunitas Pandawa (Paseduluran Kadang Jawa) menyuguhkan Garapan “Gatra Mutiara Jawa”. Sebagai penampil pertama, Komunitas Pandawa berhasil menghangatkan Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah malam itu. Komunitas yang berasal dari himpunan mahasiswa Sastra Daerah ini mampu membawakan garapan karawitan yang enerjik tapi tetap berpegang pada esensi dan roh Karawitan Gadhon. Pengembangan garapan terlihat pada instrumen, vokal, dan bentuk penyajian.

Vokal Marshalia Rose (sinden) dan teman-teman mengaduk emosi penonton. Syair lagu yang dibawakan kadang menyentil telinga. Sesekali, penonton dibuat terpingkal-pingkal oleh syair yang lucu serta bumbu teatrikal pada sajian Gatra Mutiara Jawa. Jamane globalisasi/ Jaman ingkang sarwa nggegirisi/ Budaya manca ngrusak tradisi/ Tradisi mati dha ra preduli/ Dirusak dening acara televise sing nggegilani/ Goyang ngebor goyang ngecor goyang itik lan goyang meri/ We lha dalah gendheng puniki//. Begitu bunyi salah satu syair lagu yang dibawakan Komunitas Pandawa. Lucu, bukan? Tetapi memang nggegirisi lan nggilani (miris).

Karawitan Gadhon merupakan suguhan permainan perangkat gamelan dengan komposisi instrumen baku atau inti seperti instrumen gamelan gambang, rebab, gender, dan kendang. Suguhan Komunitas Pandawa yang menambahkan keyboard, saxophone, serta bas gitar pada garapan karawitannya merupakan cara lain dari menikmati Karawitan Gadhon.

Penampilan kelompok Manunggal Rasa yang anggotanya merupakan gabungan dari lima negara (Amerika, Jepang, Italia, Hongaria, dan Indonesia) mampu mencuri perhatian penonton malam itu. Jika Anda mendengarkan pukulan kendang, gesekan siter, dan instrumen lain yang dimainkan serta suara sinden dengan memejamkan mata, boleh jadi Anda tak akan menyangka karawitan yang tersebut dibawakan oleh orang dengan kewarganegaraan asing pimpinan Kitsie Emerson itu.

Selain penampilan Komunitas Pandawa dan Manunggal Rasa, rangkaian Festival Karawitan Gadhon diisi penampilan kelompok Solo Kolektif (Wales), Garam Masala (Inggris), Gadhon Mangkunegaran Modern, Laras Triyagan, Gajah Nada, Sido Mukti, Laras Kumenyar, Saraswati, Gora Swara, dan SOLO Junior. Penampilan mereka dibagi menjadi dua hari yakni 12 dan 13 Agustus 2016.

Endang Tri Winarni, Ketua Festival Karawitan Gadhon berharap festival yang digelar kali pertama ini bisa menjadi ajang promosi kesenian Indonesia di kancah internasional. Penyelenggaraan Festival Karawitan Gadhon yang juga masih bagian perayaan Lustrum UNS ke-8 ini menjadi momentum awal kerja sama UNS dengan berbagai lembaga dan instansi pendidikan seni dan budaya pada taraf internasional.

Sementara itu, Ravik Karsidi mengapresiasi perhatian dan dukungan seniman luar negeri pada Festival Karawitan Gadhon ini. “Dengan cara ini budaya Jawa akan terus berkembang, tanpa melupakan aslinya dari Indonesia,” terangnya. Ia berpendapat, sudah seharusnya UNS memberikan penghargaan kepada seniman dari luar negeri yang ikut melestarikan karawitan. Penyelenggaraan festival internasional  menjadi langkah UNS menuju world class university dengan memperkenalkan karawitan kepada masyarakat dunia.  [anna.red.uns.ac.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*