Sepenggal Kisah Perjalanan dari Kaki Gunung Sumbing

Tak jauh dari gerbang masuk kawasan desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jumat (27/11), siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, tampak jalanan yang sedikit menanjak telah ramai dipadati warga. Dengan ramah dan sedikit malu, warga menyaksikan dan menyapa rombongan dari UNS turun dari bus. Ini adalah rombongan yang tergabung dalam kegiatan UNS Goes to Village 2015. Sebuah kegiatan yang dihelat oleh Layanan Internasional (International Office) UNS untuk mengenalkan mahasiswa asing kepada budaya Indonesia lewat interaksi langsung dengan masyarakat desa.
Di salah satu rumah warga yang telah disiapkan, telah berkumpul kepala dusun serta beberapa warga menyambut kedatangan rombongan. Acara diawali dengan perkenalan sekaligus pembagian kelompok yang terdiri dari dua sampai tiga orang mahasiswa asing dengan satu pendamping dari warga. Ketika nama beserta negara asal disebut, dengan spontan warga berseloroh menyebut nama pemain bola atau tokoh terkenal dari negara yang disebut. “Oh, Upin Ipin, Upin Ipin,” ketika mahasiswa dari Malaysia memperkenalkan diri, seisi ruangan pun pecah penuh tawa.
Pada kesempatan ini, sang tuan rumah mengenalkan produk yang akan diangkat untuk menjadi ciri khas Desa Wonotirto, yaitu ikat kepala. Produk tersebut adalah selembar kain berbentuk persegi yang dihiasi batik bermotif parang Gondosuli. “Kasunanan ketiga pernah berburu ke Temanggung dan dia memberikan selendang kepada Tumenggung Temanggung. Ada motifnya bunga Gondosuli,” ujar Mukidi yang memperkenalkan selendang tersebut. Ikat kepala ini kemudian dipakai oleh semua mahasiswa UNS maupun warga yang menjadi panitia penyelenggara selama tiga hari. Tak hanya dikenakan sebagai identitas peserta kegiatan UNS Goes to Village, ikat kepala tersebut juga menampakkan kesan tradisional layaknya blankon.
Setelah kelompok terbentuk, masing-masing pendamping membawa mahasiswa menuju rumah-rumah yang telah ditentukan. Selama tiga hari, mahasiswa diharapkan mampu membaur dan belajar bersama dengan setiap anggota keluarga yang ada di rumah tersebut. Setelah beristirahat kurang lebih selama satu jam di rumah warga, semua kelompok kemudian menuju Taman Pendidikan Quran (TPQ). Di sini mahasiswa asing mengajak murid TPQ belajar dengan permainan-permainan seru. Hari itu, masjid desa menjadi ramai oleh puluhan murid yang antusias meski sebelumnya terlihat malu-malu. Beberapa warga yang mengantar anaknya TPQ ikut menonton anaknya diajar oleh mahasiswa asing. Al Farizi, salah seorang warga, mengemukakan bahwa kegiatan ini bisa memberikan dampak positif bagi anak-anak. “Di samping itu (bisa) memberikan motivasi untuk bisa seperti mereka, kalau menjadi mahasiswa bisa ke luar (negeri),” ujarnya.
Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, acara sarasehan bersama warga digelar. Tokoh-tokoh masyarakat setempat ikut hadir. Berbagai obrolan tentang Desa Wonotirto menjadi topik yang dibahas. Misalnya saja isu pendidikan yang masih terbilang kurang hingga mata pencaharian warga yang kebanyakan adalah petani tembakau atau kopi. Selain itu, makan malam bersama juga disuguhkan. Ada satu makanan yang menarik perhatian bagi rombongan dari UNS, yaitu, nasi jagung. Dihidangkan dengan ikan asin, nasi jagung dijadikan salah satu makanan pokok di samping nasi oleh masyarakat Wonotirto.

Mengenal Kopi dari Kaki Gunung Sumbing
Esok hari, kaki gunung Sumbing berudara cukup dingin akibat hujan di kala malam. Walau begitu, kegiatan tetap berlanjut. Pengenalan kopi di salah satu bukit lereng Gunung Sumbing menjadi agenda pagi itu. salah satu petani kopi, Mukidi, menjelaskan dengan detil cerita kopi mulai dari mengenai komoditas kopi, proses pembuatan kopi dari buah hingga menjadi bubuk, hingga jenis-jenis kopi dan cara pembuatan kopi yang baik. Selain itu, Mukidi juga memaparkan pentingnya kopi dan tembakau sebagai sumber penghasilan utama warga Temanggung harus dilestarikan secara selaras. “Di sini, ada kopi dan tembakau. Ketika kopi dan tembakau dicampur, mix-farming, maka akan terjadi kekuatan ekonomi yang tidak akan terputus di tingkat petani. Itu temuan saya. Karena ketika kopi usai panen, baru tembakau panen, dan ada khas nanti kalau kopi Temanggung, khas ada aroma tembakaunya,” jelas Mukidi.
Setelah berkenalan dengan kopi, mahasiswa pun dapat menikmati kopi langsung di area perbukitan, di tengah hamparan perkebunan. Desa Wonotirto merupakan desa yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Bila menjatuhkan pandangan jauh ke depan, di hadapan Gunung Sumbing berdiri gagah Gunung Sindoro. Lalu hamparan dataran tinggi Gunung Prau di sebelah kanan menjadi pemandangan sehari-hari desa yang berjarak kurang dari satu jam dari pusat kota.

Mengajar di SMP
Sekitar pukul 9.00 WIB, rombongan UNS melanjutkan perjalanan menuju SMP 3 Bulu. Di sini, meskipun berpakaian tidak formal, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengajar siswa di kelas. Tiap kelompok mendatangi kelas-kelas. Tampak siswa yang sedikit canggung dan malu-malu mampu berinteraksi dengan baik dengan mahasiswa asing. Para guru yang ikut mendampingi juga terlihat senang muridnya diajar oleh mahasiswa asing. Di sini, mahasiswa mengajarkan Bahasa Inggris lalu diselingi dengan permainan permainan seru dari luar negeri.
Slamet Riyadi, salah seorang guru dari SMP 3 Bulu memuji kegiatan yang diselenggarakan UNS. Menurutnya, kegiatan ini merupakan pengalaman baru bagi siswa. Dari sini anak juga bisa bertukar banyak pengalaman. “Ada mungkin sebagian anak yang belum tahu tentang ini menjadi tahu, juga sedikit-sedikit anak bisa belajar Bahasa Inggris,” jelasnya. Selain itu, Rizal, salah satu siswa kelas tujuh mengungkapkan kegembiraannya. “Seneng diajak main. Main sulap sama nari,” ungkapnya.

Ketoprak Warga
Sekitar pukul 12.00 WIB, rombongan bertolak dari SMP menuju rumah masing-masing. Semua jalur perjalanan merupakan jalan tak beraspal dengan hamparan tanaman hijau atau sisa-sisa panen tembakau, di samping kiri dan kanan.
Sepulang dari SMP, kegiatan berikutnya adalah menonton proses penjemuran daun tembakau. Mahasiswa berkesempatan melihat proses pemotongan daun atau “ngrajang” dalam bahasa Jawa. Alat yang digunakan pun masih tradisional dan unik. Daun-daun yang telah dipotong kemudian dijemur di bawah terik matahari. Sembari menata daun untuk dijemur, mahasiswa dijelaskan mengenai proses pembudidayaan tembakau, pengelompokan tembakau berdasarkan kualitas, hingga pemasaran tembakau kepada perusahaan-perusahaan besar.
Pada malam terakhir di desa, kegiatan berlanjut dengan menyaksikan latihan ketoprak oleh warga. Cerita yang dimainkan adalah peristiwa peperangan antara kerajaan Mataram melawan Kerajaan Jipang. Lakon yang bermain, Pangeran Ronggo dari Mataram akhirnya berhasil membunuh Adipati Benowo dari Jipang.
Satu hal yang menarik terjadi pada malam ini. Ketoprak yang merupakan drama diiringi oleh gamelan menarik perhatian mahasiswa asing. Di tengah-tengah latihan, mahasiswa yang telah berlatih gamelan di Solo, meminjam sejenak gamelan unutk menunjukan kebolehannya. Beberapa mahasiswa memasuki dan memegang alat musik, warga bertepuk tangan memberi semangat. Dengan satu aba-aba, terdengar alunan musik yang sebenarnya tidak asing. Baru setelah alunan musik berhenti, mahasiswa asing bernyanyi lagu gundul-gundul pacul, seketika warga ikut bernyanyi sambil tertawa. Malam terakhir di Desa Wonotirto menjadi pecah. Pertunjukan bukan hanya menjadi milik warga yang latihan ketoprak, tapi juga mahasiswa yang juga ikut bermain gamelan. [inang.red.uns.ac.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*